“Judul Di Belakang”, Kicauan Para Burung Berkemaluan dan Berkelamin

avatar
(Edited)

Bila burung bisa berkicau dengan bebas, maka apa yang saya tuliskan ini anggap saja sebagai kicauan. Walaupun saya bukan burung dan tak memiliki burung, namun saya ingin bisa seperti burung yang bebas berkicau. Tanpa sekat dan tanpa kurungan, meskipun yang dikurung bisa dijual dengan harga tinggi, tetapi tetap saja jauh lebih menyenangkan bisa bebas merdeka terbang menjelajah semesta sambil berkicau. Meskipun juga tidak selalu merdu dan enak didengar, namun setiap kicauan selalu memiliki arti dan makna bagi yang mau mengerti.

IMG_20180116_105829.jpg

Setumpuk buku, majalah, koran, dan berbagai tulisan baru selalu ada di atas meja setiap hari Senin tiba. Mereka semua mengundang saya untuk membaca dan saya selalu senang untuk menerima undangan mereka. Hanya saja, waktu hanya terbatas 24 jam sehari, sehingga tidak selalu semua bisa sempat saya ulas. Benar-benar harus sabar mereka menanti antrian, hanya mampu satu saja sehari saya berikan ulasannya. Tak mungkin saya ulas bila saya tak habiskan dulu bacaannya, karena penulis semua tulisan buku itu pasti bukan udel yang seenaknya, sehingga patut diapresiasi dan dihormati.

Situasi spesial jatuh pada sebuah buku pertama yang dibuat dari hasil kicauan para burung yang bebas merdeka menikmati keindahan alam semesta ini di Steemit. Terutama lagi karena semua kicauan para burung itu sudah pernah saya baca jauh hari sebelumnya dan masih saya ingat dengan sangat jelas di dalam benak. Tersimpan juga di dalam hati sebab semua para burung dan kicauannya itu memberikan saya harapan besar bahwa benar di Aceh sana masih ada burung-burung bebas dan merdeka, burung-burung yang memiliki kemaluan walau tidak perlu malu-malu dan menjadi memalukan karena tak memakai penutup.

Ya, mereka memang burung-burung yang lebih manusiawi daripada kebanyakan manusia pada saat ini. Mereka memiliki kemaluan dan teguh tegas berani menunjukkan kelamin mereka yag menjadi kepribadian mereka. Tidak ada yang mereka perkosa, tidak ada juga membuat malu yang malu-maluin. Mereka begitu terbuka, tidak ada yang ditutupi dan tidak juga memakai kemaluan orang lain untuk menutupi kemaluan mereka. Mereka benar-benar sungguh menggairahkan dan mengundang birahi!

Burung-burung itu berkerumun di pohon rindang bernama komunitas @kanotbu, sebuah komunitas seni yang berbudaya. Sebuah komunitas yang bukan sok seniman tetapi tak tahu bagaimana menjaga budaya lewat seni, tetapi mereka berusaha keras untuk terus melestarikan apa yang dulu pernah ada dan terlupakan agar terus bisa ada. Segala bentuk tulisan khas sastra satire ala Aceh tercermin dengan jelas pada setiap kicauan mereka. Perjuangan itu benar terasa jelas dikicaukan, tanpa memakai otot dan urat, tetapi lebih kepada perpaduan otak dan hati. Inilah yang juga membuat hati saya begitu bahagia, ternyata burung-burung Aceh itu benar masih ada dan tidak semuanya terkurung atau dikurung.

Kicauan para burung ini juga menjadi contoh penting bagi para burung yang merasa berkemaluan dan memiliki kelamin di Steemit ini. Mereka bisa terbang bebas dan merdeka ke sana ke mari tanpa harus takut tidak dihargai dan tidak dipuja-puji, tanpa takut tidak mendapatkan bayaran pula. Yakin saja semua itu ada hasilnya bila kesabaran, ketekunan, keseriusan, dan keikhlasan itu benar diberikan. Toh, buku mereka ini menjadi bukti bahwa ada yang lebih penting dari reward yang dihasilkan di Steemit, buku dari hasil kicauan mereka tidak bisa dibandingkan dengan mata uang apapun di dunia ini. Berlian segunung pun tidak bisa membeli dan mengurung mereka! Celana dalam dan bra hitam yang mereka gantungkan di tiang bendera dan kentut Setnov yang mereka kicaukan bisa lebih kuat bertahan daripada sekedar makanan dan minuman enak termahal yang esok hanya akan menjadi kotoran dan dibuang di kamar mandi.

Para burung yang sedang mengarungi samudra, mendaki gunung tinggi, terbang ke angkasa, berjalan di atas tanah, hingga yang sedang menggali setiap lubang tikus, semuanya berkicau dengan kelamin masing-masing dan bersatu padu membuat sebuah nyanyian merdu dalam sebuah buku berjudul “Judul Di Belakang”. Buku yang diterbitkan oleh Tansopako, siapa yang peduli, ini patut sekali dibaca dan dijadikan contoh bagaimana berkicau. Biarpun sendiri-sendiri tetapi tetap rendah hati untuk berkumpul bersama, sehingga semuanya menjadi benar merdu bukan hanya pura-pura merdu ataupun dipaksakan merdu. Tidak perlu ada pesan sponsor yang memenggal mereka, menjadi bukti juga bahwa benar ada gunanya menabung di Steemit.

Tanggal 14 Januari kemarin, buku para burung ini diluncurkan ditemani dendang irama para pemusik yang juga tak memakai kolor. Sebuah kehormatan turut dibajak dan bisa ikutan bersenang-senang bebas menikmati keliaran semesta alam yang merdeka di bumi Aceh. Tepuk bahu bagi para burung ini, mereka adalah : @altha15, @zeds, @senja.jingga, @marxause, @fooart, @gabrielmiswar, @only.home, dan @bookrak. Mari kita doakan semoga kelamin yang berkemaluan milik mereka itu bisa terus berkicau merdu tanpa harus ditutupi dan dikurung. Semoga juga apa yang telah mereka lakukan bisa membebaskan para burung lainnya yang masih terkurung tanpa kemaluan dan kelamin di Aceh, di Steemit, di Indonesia dan seluruh dunia ini. Follow mereka kalau nggak mau rugi!

aezre9o752.jpg
Sumber: salah satu postingan yang dipajang di blog @kanotbu

Anggap saja ini sebagai kicauan burung tua yang sudah lelah mencari dan menjadi amat sangat bahagia ketika sudah mendapatkan mimpinya. Ini bukan promosi, tetapi rugi kalau tak memiliki kicauan para burung ini! Silahkan hubungi pohon rindang tempat mereka berkumpul, @kanotbu, semoga tak kehabisan!

Bandung, 16 Januari 2018

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis



0
0
0.000
137 comments
avatar

wow

0
0
0.000
avatar
(Edited)

Selain memanjakan mata, satu hal yg slalu buat saya tertarik dari burung, mreka itu adlh makhluk yg sangat setia pada pasangan, kita bisa cntoh dari burung merpati, bgaimana setianya sijantan, sebaliknya juga, poinnya contoh lh burung klu mau bhagia dan aman dlm hidup, terimaksih mbak@mariska.lubis, sudah berkunjung ke aceh, meski ada kcewa sdikit, krn gk bisa jmpa dgn mbak kurator cerdas @mariska.lubis , tapi saya tetap mrasa senang, krn tlh berkunjung ke daerah asal saya

0
0
0.000
avatar

Saya pernah mendengar komunitas ini dengan syair2nya yang luar biasa dan pernah menyaksikan kanda fuady keulayu di youtube, tapi ngak pernah menyaksikan secara lansung..

0
0
0.000
avatar

harus baca bukunya dan semoga ada kesempatan lagi untuk menyaksikan mereka langsung!

0
0
0.000
avatar

Aku penasaran gimana bukunya. Apa harus di baca dari belakang halaman dulu?

0
0
0.000
avatar

Seperti burung hidupku....
Seperti hidup.......,, he..he..he..
Ulasan yang sangat spektakuler tentang burung berkelamin ini Mbakku @mariska.lubis.

Besar harapan ilmu menulis ini tertularkan pada burung yang merasa terkurung walau tanpa sangkar.

Salam sukses Mbak @mariska.lubis

0
0
0.000
avatar

hahaha semoga bisa terus terbang tinggi kicauan burungmu! salam hangat selalu!

0
0
0.000
avatar

Luar biasa, menarik sekali, jadi penasaran. Semoga KSI Bandung pun kelak punya karya yang dibukukan. Aamiin

0
0
0.000
avatar

Saya sudah lama mengenal burung-burung itu, Kak. Mereka memang sangat kreatif... pikiran-pikirannya tak bisa diterka.

0
0
0.000
avatar

@only.home juga ikut ambil bagian ya mbak mariska, dia memang burung yang bebas dengan kicauan syairnya yang memukau.
Meskipun tidak bisa menghadiri namun saya bangga bisa membaca tulisan ini, banyak teman teman yang lain memposting kemeriahan acara tempo hari, salam dari ujung Sumatra buat mbak @mariska.lubis.

0
0
0.000
avatar

iya... mereka semua keren banget! salam hangat untukmu...

0
0
0.000
avatar

Mereka pun sudah banyak yang berkicau di steemit, tentunya sudah banyak konten yang bermanfaat dan berkualitas buat kita...semoga komunitas mereka tambah hebat 👍👍👍

0
0
0.000
avatar

Burung bukan sembarang burung, burung terbang dari kota Bandung,
kalau kak @mariska.lubis suka sama burung, jangan lupa pakai kerudung. :D :D :D

0
0
0.000
avatar

hahaha.... biarkan diriku bebas tanpa merundung walau mendung...

0
0
0.000
avatar

Para burung pun ternyata bisa berkarya seni, bukan hanya berkicau. Wah, sepertinya menarik isi bukunya Bu @mariska.lubis. Terus berkarya ya para burung, sampaikan isi hati nurani ke pentas dunia. :)

0
0
0.000
avatar

Geuthei...sebuah ulasan yang tak kalah hentakannya dibandingkan apa yang ditorehkan para muda kreatif yang satu persatu mulai melepaskan masa lajang, dan membuktikan bahwa mereka juga pribadi merdeka ketika memutuskan burung itu harus hinggap di mana. Saya yakin, setelah semalam suntuk bersama mami vagina, mereka tak malu-malu lagi untuk melihat perbedaan yang nyata antara penis dan burung!

0
0
0.000
avatar

hahahahha.... taufik! semoga para burung semakin merdeka dan bebas memandang sebagai @acehpungo yang juara dan disayang mami vagina hahaha...

0
0
0.000
avatar

Semoga kelak kami juga menjadi burung2 yg hebat 😇

0
0
0.000
avatar

dirimu burung yang bersayap 7, tentunya sangat hebat!

0
0
0.000
avatar

Semoga sebanding karya dengan namanya. Terima kasih

0
0
0.000
avatar

Komunitas @kanotbu selalu punya sudut pandang yang kreatif dalam menyuarakan kegelisahan masyarakat. Tema yang diangkatnya begitu cerdas, lugas.

Tetiba saya menjadi teringat pepatah Aceh tentang Apit Awe. "Apit Apat Awe, soe nyang keunong ureueng nyan mate." yang arti harfiahnya lebih kurang "Apit Apat awe, siapa kena dia yang mati". Dulu rubrik kolom sastra yang mengangkat satire ini tampil rutin di harian lokal Serambi dalam bentuk kata dan petuah.

Kini, Apit Awe telah lahir dalam kicau-kicau @kanotbu dalam karya, rupa dan abstraksi lainnya yang mungkin ada. Rasanya tepat sekali penggambaran Kak @mariskalubis di artikel ini mengenai keberadaan komunitas yang keren pake banget dan semoga tidak pernah malu-malu dalam berbagi, berkreasi dan menginspirasi generasi muda Aceh.

Salam kenal Mbak @mariska.lubis. (-:

0
0
0.000
avatar

Sepertinya memang sekarang sastra satire khas Aceh itu sudah hilang, dan saya sangat semangat sekali ketika muncul lagi lewat mereka... semoga akan menjadi sebuah kebangkitan kembali...

salam hangat selalu...

0
0
0.000
avatar

Sukses ka mariska dengan peluncuran bukunya, semoga bermanfaat untuk kita semua... Good luck happiness

0
0
0.000
avatar

terima kasih... semoga KSI chapter jabotabek juga bisa meluncurkan buku pada saatnya nanti...

0
0
0.000
avatar

Mba...mba.... Mba!!
Pegangin! burung, eh! Kuping saya mau terbang!
Hahaha
Makasih banyak atas segalanya mba. Saya malah ga nyangka beneran bisa ketemu mba mariska. Semoga di bandung burung-burungnya juga bisa merdeka dan juara. Semoga dari sana akan hadir burung-burung raksasa; Satu jengkal dua jari, belum hitung kepala.

0
0
0.000
avatar

hahaha... awas nyangkut di jendela... wkwkwk.... saya sangat senang dan bahagia bisa berjumpa dan berada di sana bersama kalian semua... kalian adalah sejarah yang akan membawa terbang banyak burung lainnya untuk terbang bersama dengan bebas dan merdeka!

0
0
0.000
avatar

Makasih mbak udah main ke kanot bu, you're so inspiring us, no kolor day sent you our best regard.

0
0
0.000
avatar

kolornya besok-besok berbatik deh ya biar bisa dipakai hahaha... peluk cium untuk no kolor day!

0
0
0.000
avatar

Semoga makin banyak burung-burung yang mengorbit di dunia steemit. Tak hanya kuat berkicau akan tetapi tahan lama menghadapi goncangan di dunia steemit. Tak ada vote bukan masalah, yang masalah kalau si burung sulit bangkit di pagi hari. Mantap motivasinya mbak..

0
0
0.000
avatar

hahaha kalau tak bangun tinggal kurangi buncit saja.. salam hangat selalu...

0
0
0.000
avatar

Hiks.. Diriku tidak buncit tapi sikpek kayak roti sobek goceng dapat 4.

0
0
0.000
avatar

Judulnya kereeeeeeeeen plus berani mbak...burung yg engga malu-maluin Yach...👍

0
0
0.000
avatar

burung yang membuat bangga dan membuat saya bahagia!

0
0
0.000
avatar

masih di Aceh mbak Mariska? senang bisa bertemu di acara meet up kemarin...

0
0
0.000
avatar

maunya masih di Aceh tapi sudah pulang kandang... ;)

0
0
0.000
avatar
(Edited)

Kuping saya naik dan jenggot bergoyang menikmati kicauan.

Tetapi..

Kecewa pada hari kemarin, sayalah burung yang disangkar.

0
0
0.000
avatar

Sungguh, berkumpulnya para kelamin untuk sebuah ritual kicau, adalah burung tersendiri, dan itu adalah lempap menurut saya. Salut untuk tulisan kak @mariskalubis dan juga kawan-kawan kanot bu. Salam kepak sayap.

0
0
0.000
avatar

semoga sayapnya bisa semakin kuat untuk bisa terbang semakin tinggi!

0
0
0.000
avatar

buku bagus,
namun tulisan mbak juga bagus, https://bilikml.wordpress.com/2010/09/28/arisan-pria-ala-si-tante/ saya sudah membaca beberapa judul dalam blog mbak, sangat bagus dan mudah di mengerti.

harapan kami tulisan mbak di post di steemit. terimkasih

0
0
0.000
avatar

terima kasih ya sudah mampir... semoga berguna dan bermanfaat.

0
0
0.000
avatar

sangat bermanfaat mbak, untuk menambah wawasan

0
0
0.000
avatar

Walau pun seperti kicauan burung tapi sangat merdu alias bermakna penuh denga motivasi dan inspirasi.

0
0
0.000
avatar

Hehe, terima kasih telah mengangkat kicauan burung-burung dari tanah Rencong dimata internasional. Semoga saja kicauannya akan tetap terlihat/terdengar 😍😀.

Salam sukses buat bunda @mariska.lubis

0
0
0.000
avatar

Aceh Lom Sayang, Aceh Meutuwah, Meusyehu Dimata Dounya. Terima Kasih ibu @mariska.lubis ,Saya Sangat bangga dengan tulisan anda ini, Anda telah mengangkat nama Aceh di platform yang sangat luar biasa ini. Salam sukses untuk anda dari saya @ponpase

0
0
0.000
avatar

Merekalah yang keren sehingga memang sudah sepatutnya membahana di seluruh negeri...

0
0
0.000
avatar

Dari Pembukaan Hingga Terakhir Burungnya Masih Dalam Sarang,,, heheheh salam untuk kakak Duta Steemit @mariska.lubis

0
0
0.000
avatar

Suka kata-kata ini jleb banget.

"...meskipun yang dikurung bisa dijual dengan harga tinggi, tetapi tetap saja jauh lebih menyenangkan bisa bebas merdeka terbang menjelajah semesta sambil berkicau" :)

0
0
0.000
avatar

Kicauanmu selalu berdenyut kalbu
Tatkala hati resah nan pilu...

Mantap kakak....
Mungkin kicauan burung tua
Itulah yang amat nyata

Salam sukses @mariska.lubis...

0
0
0.000
avatar

burung kakak tua bisanya hinggap di jendela... hahaha... salam hangat selalu...

0
0
0.000
avatar

Biar hinggap di jendela, burung kakak tua selalu nyata adanya...
Mantap kakakk..

0
0
0.000
avatar

Burungnya saja yg tua, lantas kicauannya masih sangat merdu...
Hahaha

0
0
0.000
avatar

hahahahaha....

0
0
0.000
avatar

Tertawamu saja bikin hati mendayu dayu. Apalagi kicauanmu...
Mantap kakak....

0
0
0.000
avatar

Ketika burung telah bersatu, maka akan lahir sejuta kicauan. Dan ketika kicauan itu diabadikan, maka akan menjadi ringtone yang setiap saat bisa didengar.
Salam manis semanis-manisnya mbak @mariska.lubis. Peluk cium aku haturkan kembali walau cuma lewat ketikan.. 😀

0
0
0.000
avatar

cium balik dan peluk erat biar semakin manis da merdu kicauanmu! wkwkwk....

0
0
0.000
avatar

Cukup mbak, jangan di balikkan lagi. Gk enak sama @bookrak nanti..
Dia memantau dari jauh...hahaha..

0
0
0.000
avatar

Kata2 nya penuh dengan burung2, teh @mariska.lubis sangat ahli dalam menyusun kata2nya, membuat sangat enak untuk dibaca, saya sangat kagum sama teh mariska yg tak pernah lelah kesana-kesini demi untuk kemajuan bersama di steemit ini, semangat mu begitu membara, saya juga mengucapkan terima kasih pada @kanotbu, mereka luar biasa.

0
0
0.000
avatar

semangat saya datang dari kalian semua yang saya sangat cintai dan banggakan!

0
0
0.000
avatar

Wah asik ne..bisa dicintai sama teh @mariska.lubis yang dinobatkan sebagai Bidadari Duta Steemit..😍😍😍

0
0
0.000
avatar
(Edited)

Keren kak @mariska.lubis
filosophy burung ,hehe..
Saya sampai harus membacanya berulang2 terutama pada kata burung, kelamin dan kemaluan :D

0
0
0.000
avatar

Selamat atas peluncuran bukunya....salam hangat untuk semua.

0
0
0.000
avatar

sukses dengan bukunya!!! Selalu menjadi inspirasi buat banyak orang

0
0
0.000
avatar

Yaaaa saya baru baca, baru alongside lagi di pelabuhan. Heheh.. Burung yang di laut sangking bebasnya tidak tau mau hinggap kemana, ikuti arah angin ajalaah, moga-moga ada kapal yang melintas, nebeng aja kita..

0
0
0.000